Kedudukan Anak Angkat Tanpa Legalitas Dalam Waris Menurut Hukum Positif Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.30742/perspektif.v31i2.967Keywords:
anak angkat, legalitas, hukum positif, adopted child, legality, positive lawAbstract
Ketidakpastian hukum mengenai kedudukan anak angkat tanpa legalitas formal dalam sistem waris Indonesia merupakan persoalan normatif yang belum terselesaikan. Akar permasalahannya terletak pada adanya kekosongan hukum (rechtsvacuum) dan pertentangan norma antara hukum Islam dan hukum perdata dalam mengatur hak waris anak angkat, khususnya bagi mereka yang proses pengangkatannya tidak melalui penetapan pengadilan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan hukum anak angkat tanpa legalitas dalam sistem waris Indonesia serta mengkaji sejauh mana hukum positif mampu memberikan perlindungan terhadap hak waris mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif melalui pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan yurisprudensi dengan mengkaji bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dualisme sistem hukum yang berlaku menghasilkan putusan yang tidak seragam: Pengadilan Tinggi Banten (No. 176/PDT/2024/PT BTN) menempatkan anak angkat setara dengan anak kandung berdasarkan Staatsblad 1917 No. 129, sedangkan Pengadilan Agama Kayu Agung (No. 901/Pdt.G/2025/PA.Kag) dan Surabaya (No. 174/Pdt.P/2026/PA.Sby) membatasi hak waris anak angkat hanya melalui wasiat wajibah maksimal sepertiga harta berdasarkan Pasal 209 KHI. Ketidakseragaman ini bukan sekadar persoalan diskresi hakim, melainkan cerminan langsung dari tumpang tindih dan kekosongan norma dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga diperlukan harmonisasi regulasi yang lebih komprehensif guna menjamin kepastian dan keadilan hukum bagi anak angkat di Indonesia.
The legal uncertainty surrounding the position of adopted children without formal legal status in Indonesia’s inheritance system remains an unresolved normative problem. The root of the issue lies in the existence of a legal vacuum (rechtsvacuum) and normative conflicts between Islamic law and civil law in regulating the inheritance rights of adopted children, particularly those whose adoption process did not go through a court decree. This study aims to analyze the legal standing of adopted children without formal legality in Indonesia’s inheritance system and to examine the extent to which positive law provides protection for their inheritance rights. The research method employed is normative juridical research through statutory, conceptual, and jurisprudential approaches, examining primary, secondary, and tertiary legal materials. The findings reveal that the prevailing legal dualism produces inconsistent judicial decisions: the Banten High Court (No. 176/PDT/2024/PT BTN) placed adopted children on equal footing with biological children under Staatsblad 1917 No. 129, whereas the Religious Courts of Kayu Agung (No. 901/Pdt.G/2025/PA.Kag) and Surabaya (No. 174/Pdt.P/2026/PA.Sby) limited the inheritance rights of adopted children solely through the wasiat wajibah mechanism of a maximum one-third of the estate under Article 209 of the Islamic Law Compilation. This inconsistency is not merely a matter of judicial discretion, but rather a direct reflection of the overlapping norms and legal gaps within the existing legislative framework. Consequently, a more comprehensive regulatory harmonization is urgently needed to guarantee legal certainty and justice for adopted children in Indonesia.
References
Peraturan Perundangan-undangan:
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235).
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 297, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5606).
Kompilasi Hukum Islam (KHI).
Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak.
Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor: 110/HUK/2009 tentang Persyaratan Pengangkatan Anak.
Perkara Perdata No. 1413K/Pdt/1988/01/030.Anak Angkat.
Putusan Pengadilan Tinggi Banten No. 176/PDT/2024/PT.BTN.
Putusan Pengadilan Agama Kayu Agung No. 901/Pdt.G/2025/PA.Kag.
Putusan Pengadilan Agama Surabaya No. 174/Pdt.P/2026/PA.Sby.
Putusan Pengadilan Agama Banyuwangi Nomor 0486/Pdt.P/2020/PA.Bwi.
Buku:
Ahmad Junaidi. Wasiat Wajibah: Pergumulan Hukum Adat dan Hukum Islam di Indonesia. Edited by Muhaimin. Cet. 1. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.
Kamil, Ahmad, dan M. Fauzan. Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia. Cetakan ke-2. Jakarta: PT. Rajagrafindo Perkasa, 2010.
Yusup. Kompilasi Hukum Islam: Pilar Hukum Perdata Islam di Indonesia (Perkawinan, Kewarisan, dan Perwakafan). Cet. ke-1. Banjarnegara: PT. Penerbit Qriset Indonesia, 2026.
Jurnal:
Gihleb, Rania, Osea Giuntella, and Ning Zhang. “The Effect of Mandatory-Access Prescription Drug Monitoring Programs on Foster Care Admissions.” The Journal of Human Resources 57, no. 1 (2022): 217–40. https://doi.org/10.3368/jhr.57.1.0918-9729R2.
Hannifa, Vaula Surya, Johni Najwan, and M. Amin Qodri. “Hak Waris Anak Angkat Dalam Perspektif Kompilasi Hukum Islam Indonesia.” Zaaken: Journal of Civil and Business Law 3, no. 1 (2022): 34–48. https://doi.org/10.22437/zaaken.v3i1.15919.
Herawati, Andi. “Kompilasi Hukun Islam (KHI) Sebagai Hasil Ijtihad Ulama Indonesia.” HUNAFA Jurnal Studia Islamika 8, no. 2 (2011): 321–40. https://doi.org/10.24239/jsi.v8i2.367.321-340.
Ichsan, Muhammad, and Erna Dewi. “Reformulasi Hukum Wasiat Wajibah di Indonesia Terhadap Kewarisan Anak Angkat Perspektif Hukum Islam.” MAQASID: Jurnal Studi Hukum Islam 12, no. 1 (2023): 2615–22. https://doi.org/10.30651/mqs.v12i1.15885.
Putranti, Mahardhika Budi, and Setiyowati. “Kedudukan Anak Angkat Yang Tidak Didaftarkan Sebagai Ahli Waris Orang Tua Angkat.” Jurnal Akta Notaris 2, no. 1 (2023): 68–83. https://doi.org/10.56444/aktanotaris.v2i1.895.
Rabbani, Deden Rafi Syafiq. “Membedah Pengaturan Hukum Kewarganegaraan Chile: Suatu Kajian Perbandingan.” Jurnal Supremasi 11, no. 1 (2021): 1–14. https://doi.org/10.35457/supremasi.v11i1.1287.
Ritonga, Riza Amina Harkaz, H. Isran Idris, and Dwi Suryahartati. “Kedudukan Anak Angkat Dalam Sistem Pewarisan Hukum Adat dan Hukum Islam (Perbandingan Antara Hukum Adat dan Hukum Islam).” Zaaken: Journal of Civil and Business Law 2, no. 3 (2021): 512–25. https://doi.org/10.22437/zaaken.v2i3.16003.
Rosalina, Adelia. “Kedudukan Anak Angkat Dalam Hak Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.” Journal of Law 8, no. 1 (2022): 198–211.
Saraswati, Ida Ayu Kade Irsyanti Nadya. “Status Hukum dan Hak Waris Bagi Anak Angkat Yang Tidak Dimohonkan Dengan Penetapan Pengadilan.” Kertha Wicaksana 16, no. 1 (2022): 7–14. https://doi.org/10.22225/kw.16.1.2022.7-14.
Yassin, Iqbal, Prasetya Sanjaya, Muhammada Romadhon, and Ivan Saputra. “Integrasi Konsep Anak Angkat Dalam Pembagian Waris di Indonesia: Analisis Yuridis Terhadap Dinamika Hukum Positif.” Lex Stricta: Jurnal Ilmu Hukum 4, no. 2 (2024): 274–81.
Downloads
Published
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
The Authors submitting a manuscript do so on the understanding that if accepted for publication, copyright of the article shall be assigned to jurnal PERSPEKTIF and Research Institutions and Community Service, Wijaya Kusuma Surabaya University as publisher of the journal.


